Parampok Bermodal Bom

AKSI perampokan merupakan salah satu perilaku kriminal yang kerap terjadi di Indonesia. Berbagai modus dilakukan para pelaku untuk menggondol harta benda korban yang menjadi targetnya. Pola pelaku terus berkembang dan menjadi pekerjaan rumah aparat penegak hukum.

Awalnya, pelaku kerap menggunakan senjata, baik benda tumpul, senjata tajam maupun senjata api dalam melancarkan aksinya. Senjata tersebut digunakan untuk mengancam, bahkan melumpuhkan korban yang melakukan perlawanan.

Selain itu, aksi perampokan idealnya dilakukan lebih dari satu orang. Setiap pelaku memiliki peran masing-masing saat melancarkan aksinya. Sehingga, kelompok perampok bisa menjarah harta korbannya dengan leluasa.

Cerita di atas merupakan fakta yang terjadi dari serangkaian aksi perampokan di negeri ini. Namun sungguh berbeda dengan apa yang terjadi di Bank BRI Unit Cabang RSUP Dr Sardjito, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta. Bank plat merah ini dirampok oleh pelaku tunggal.

Dari rangkaian aksi yang terjadi, aksi perampokan itu seharusnya hanya terjadi di film atau sinema elektronik (sinetron). Pelaku yang hanya sendiri berhasil membawa kabur uang Rp155 juta. Tidak ada satu pun petugas keamanan, karyawan bank dan nasabah yang berani melumpuhkan pelaku. Padahal, aksi tersebut dilakukan saat waktu sibuk.

Bukan senjata tajam atau api yang digunakan pelaku untuk merampok. Kali ini, benda yang dijadikan alat untuk menaklukan petugas keamanan, karyawan bank dan nasabah adalah bom. Tentu kali pertama terjadi di Tanah Air.

Motif pelaku dengan merampas tas berisi uang yang dibawa pegawai bank. Setelah tas berisi uang tersebut berada di genggaman, pelaku langsung melemparkan tas berisi bom. Kondisi tersebut membuat semua orang yang ada di bank panik dan berusaha menyelamatkan diri.

Aksi ini sebagai bukti bahwa bahan untuk merakit bom di Indonesia masih mudah didapat. Langkah aparat penegak hukum dalam hal ini Kepolisian untuk membasmi bom rakitan masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, bukan mustahil aksi serupa kembali terjadi.

Bahkan tidak tertutup kemungkinan bom yang dibawa pelaku meledak dan banyak memakan korban jiwa. Artinya, semua pihak tetap waspada terhadap gerak-gerik orang yang mencurigakan. Keamanan bank atau pusat keramaian yang menjadi target pelaku harus curiga terhadap setiap pengunjung, terutama yang membawa tas atau bungkusan lainnya.

Dalam hal ini tidak perlu mencari kambing hitam. Hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kinerja intelijen, pengawasan dan pendekatan terhadap masyarakat. Dengan dekat terhadap masyarakat, aparat keamanan mudah pula memperoleh prilaku warga yang mencurigakan. Sehingga, aksi penanggulangan bisa dimaksimalkan.

Semoga, akasi perampokan dengan bom tidak menjadi motif baru para pelaku melancarkan aksinya.

0 KOMENTAR:

Copyright © 2012 Berita Terbaru.